Jumat, 25 Juli 2008

Banjar Tertarik PLTMH

Sabtu, 28-06-2008 | 00:28:46

KANDANGAN, BPOST - Keberhasilan Pemkab Hulu Sungai Selatan (HSS) membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) rupanya memancing daerah lain di Kalsel untuk mengembangkan PLTMH di daerahnya. Buktinya, dua hari lalu Pemkab Banjar mengutus perwakilannya ke HSS untuk belajar seputar PLTMH itu.

"Pemkab Banjar tertarik dengan PLTMH di HSS yang sudah operasi itu. Mereka sudah meninjau ke lokasi di Dusun Paniungan Desa Malilingin Kecamatan Padang Batung," ujar Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Ir H Faturrahman, Jumat (27/6).

Menurutnya, rombongan Pemkab Banjar dipimpin Rusmani, Kasubdin Penataan Wilayah dan Konservasi Pertambangan beserta empat orang stafnya. Setelah melihat langsung ke lokasi, mereka antusias mau membangun di Banjar.


Faturahman menambahkan, berdasarkan keterangan tim dari Pemkab Banjar itu, di wilayah Pemkab Banjar sedikitnya ada dua wilayah yang berpotensi untuk pengembangan PLTMH tersebut. Salah satunya di wilayah Riam Kanan, yang sampai sejauh ini masih belum tersentuh oleh aliran listrik PLN.

Pada 2008 ini, Pemkab HSS kembali bakal membangun PLTMH di di Desa Malinau dan Desa Ulang Kecamatan Loksado. Di Desa Malinau, kapasitas yang bakal dibangun sebesar 10.000 watt hingga 15.000 watt menggunakan dana APBD HSS sebesar Rp 455 juta.

Sedangkan PLTMH yang akan dibangun di Desa Ulang kapasitasnya direncanakan mencapai 40.000 watt dengan sumber dana sharing antara HSS dan Dirjen Listrik dan Pengembangan Energi Departemen ESDM sebesar Rp 1,1 miliar.

"PLTMH untuk di Desa Ulang, lelangnya dilakukan di Jakarta. Informasinya, saat ini masih tahap evaluasi. Sedangkan PLTMH di Desa Malinau pengumuman lelangnya di HSS dan kemarin sudah tutup. Hanya ada satu perusahaan yang mendaftar yaitu CV Fajar Alam," tambah Faturahman. (ck2)

http://www.banjarmasinpost.co.id/

Read More..

Aceh Lebih Baik Kembangkan Listrik Mikro Hidro Pedesaan


Kamis, 05 Juni 2008
Banda Aceh | Harian Aceh—Peneliti listrik Mikro Hidro Universitas Syiah Kuala, Tarmizi, ST, M.Sc, menyarankan agar Aceh mengembangkan listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) pedesaan. PLTMH memiliki banyak keuntungan dibanding dengan pembangkit konvensional. “Aspek negatif yang ditimbulkan oleh mesin memang ada sedikit namun ini dapat diatasi,” kata Tarmizi, kepada Harian Aceh, Kamis (29/5). “Dengan pemeliharaan rutin sederhana maka PLTMH akan berumur panjang. Selain itu manajemen organisasi pengelolaan PLTMH haruslah dilaksanakan dengan serius.”

Menurut dia, mengoperasikan unit pembangkit PLTMH relatif mudah dan banyak keuntungannya. PLTMH sangat handal, dapat beroperasi fleksible, tidak tergantung pada BBM. “Selain itu juga membuka peluang kesempatan kerja bagi masyarakat desa dan yang terpenting teknologi yang digunakan sederhana,” katanya.

Namun PLTMH, kata dia, juga mempunyai aspek negatif terhadap lingkungan sekitar walaupun sangat kecil. “Biasanya ikan terpengaruh siklus reproduksi dan migrasinya karena adanya dam, juga kadang-kadang masuk ikan kedalam putaran turbin” katanya. Penebangan pohon-pohon saat ketika pembangunan dapat mengakibatkan erosi, sedimentasi pada alilran air tapi sementara saja sambungnya.

Pemeliharaan turbin PLTMH dan berbagai kelengkapan lain harus dilakukan rutin. Biasanya seminggu sekali sudah memadai. Pemeriksaan ini perlu dilakukan agar secara dini akan diketahui kondisi turbin dan peralatannya dan segera dilakukan perbaikan jika ada kerusakan.

Peneliti yang juga Sekretaris Jurusan Elektro Fakultas Teknik Unsyiah ini menyatakan manajemen organisasi tidak bisa dilupakan untuk menunjang keberlanjutan PLTMH di desa. Struktur Pengurus PLTMH yang sederhana dan baik bisa memuaskan masyarakat desa dan warga akan memberikan kepercayaan sepenuhnya.

Susunan pengurus yang sederhana dan baik antara lain memiliki Badan Pengawas, Ketua Pengurus PLTMH, Staff Staff Teknis/Administrasi dan Operator PLTMH. Pengurus dapat mengatur dan menentukan harga listrik yang diproduksi oleh PLTMH, aturan penyambungan listrik, tata cara penggunaan uang iuran dan sebagainya. “Jika tidak dikelola dengan baik bisa saja PLTMH tetap beroperasi namun pas-pasan dan akhirnya mati perlahan-lahan,” ujarnya.(t-7)

http://harian-aceh.com/
Read More..

West Sumatra Has 61 Locations Of PLTAs and PLTMs

14 Mei 2008 | 11:13 WIB

Padang, W Sumatra ( Berita ) : State power utility PT PLN has identified 61 different locations of hydro-power plants (PLTAs) and micro-hydro power plants (PLTMs) in West Sumatra which confirmed this province as a “barn of green energy”.

The 61 power plant locations have a total capacity of 745.12 megawatts (MW), General Manager of PT PLN oveseeing West Sumatra Hudiono said in Padang Tuesday. He said that five of the 61 locations already have PLTAs and PLTMs with a total capacity of 254.067 MW, and PLTAs and PLTMs are under construction in nine locations with a projected capacity of 39 MW.

The power plant projects for the other 47 locations are still awaiting potential investors projected to have a total capacity of 416.8 MW. Actually West Sumatra still have many other potential locations for PLTAs and PLTMs with a capacity of 44.3 MW, he said.

He added that the five locations where PLTAs and PLTMs had already been built and producing electric energy are PLTA Batang Agam with a capacity of 10.5 MW, PLTA Maninjau (68 MW), PLTA Singkarak (175 MW), PLTM Pinang Awan (0,4 MW) and PLTM Koto Anau (0.16 MW), while the nine locations which are still in the stage of development are for PLTM Kambahan (2×750 kilowatts), PLTM Sumpur (2×1.000 kW), PLTM Manggani (2×1.168 kW), PLTM Sinamar (2×5.000 kW, PLTM Tarusan (2×1.500 kW), PLTM Bayang (2×3.000 kW), PLTMH Gumanti (2×5.000 kW), PLTM Lubuk Gadang (2×2.500 kW) and PLTM Salido Kecil (330 kW).

A cooperation agreement for the development and construction of the nine PLTMs had been signed by President Director of PT PLN Fahmi Muchtar, West Sumatra Governor Gamawan Fauzi, and private circles in Padang last week.

The PLTMs, which will be built under a cooperation with independent power producers (IPPs) are PLTM Kambahan with PT Limaco, PLTM Sumpur with PT Limaco, PLTM Manggani with PT PPN, PLTM Sinamar with PT Selo Kencana, PLTM Tarusan (PT Exabenar), PLTM Bayang (PT Exabenar), PLTMH Gumanti, and PLTM Lubuk Gadang with PT Selo Kencana. In the meantime, PT PLN is cooperating with PT Anggrek Mekar Sari in resuming the operation of PLTM Salido Kecil. ( ant )


http://beritasore.com/
Read More..

4.142 KK Terpencil Nikmati Listrik

Kamis, 12-06-2008

ENREKANG, BKM -- Program teknologi mandiri melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) pemerintah Kabupaten Enrekang sejak tahun 2006, masyarakat dapat menikmati. Pasalnya, beberapa daerah yang belum terjangkau jaringan listrik dari PLN, sudah dapat penerangan dari PLTMH tersebut.
Data tahun 2004 yang lalu, di Kabupaten Enrekang terdapat 5.158 kepala keluarga (KK) yang belum mendapat penerangan listrik. Namun karena adanya program tehnologi mandiri ini, sebanyak 4.142 KK telah menikmati penerangan dari PLTMH. Artinya, awal tahun 2008, sisa 1.016 KK yang belum tersentuh penerangan listrik.
Bahkan, Pemkab Enrekang, beberapa bulan lalu kembali meresmikan PLTMH di Desa Baringin Kecamatan Maiwa. Setelah meresmikan pembangunan PLTMH di lima desa yang terletak di Kecamatan Bungin.
Desa Latimojong dan Desa Tallang Rilau yang letaknya sangat jauh dari ibukota kecamatan. Apalagi di kabupaten juga telah dibangun PLTMH sebagai alat penerangan.
Selain itu, pemerintah daerah juga telah mengembangkan program penggunaan biogas pedesaan yang awal pelaksanaannya di Kecamatan Maiwa dan Anggeraja serta Curio. Namun kini telah meluas hingga ke kecamatan lainnya. Misalnya, di Kecamatan Cendana, Enrekang dan Baraka.
Hasil dari program biogas ini, telah menghasilkan 34 instalasi dengan tiga unit generator biogas yang berkapasitas 500 waat. Biogas yang bahan utamanya terbuat dari kotoran sapi ini, dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah. Bukan itu saja, biogas ini juga dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik. (K14/mit)

sumber : http://www.beritakotamakassar.com/
Read More..

Investasi Rp 145 M, SMHP Bangun Pembangkit Listrik di Sinjai

Senin, 16-06-2008

MAKASSAR, BKM - PT Sulawesi Mini Hydro Power (SMHP) tengah membangun sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro (PLTMH) di Manipi, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, berkapasitas 10 Megawatt (MW) dengan investasi US$16 juta atau sekitar Rp145 miliar.
"Beberapa bulan lalu kami sudah mulai membangun PLTA tersebut namun terkendala saat akan membuat penampungan air (waduk) untuk menggerakkan turbin yang sumber airnya dari sungai Tanggara karena Pemkab Gowa yang berbatasan dengan Sinjai mengklaim sungai itu sebagai miliknya," kata Project Director perusahaan itu, Bo Kallin di Makassar, akhir pekan lalu seperti dirilis kapanlagi.com.
Saat melaporkan kendala investasi tersebut kepada Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo di ruang kerja gubernur, Kallin yang didampingi manajer PT. SMHP, Atot W. Saptari mengatakan, dampak dari klaim-mengklaim sungai itu, pembangunan waduk dihentikan sementara untuk menunggu persetujuan pemanfaatan air sungai dari Pemkab Gowa.
Padahal, perusahaan ini sudah memperoleh izin PMA dan persetujuan pengelolaan air sungai Tanggara dari pemerintah kabupaten Sinjai dan PLN Sulselrabar memberi respon agar PLTA Manipi bisa segera terwujud sebab energi listrik yang dihasilkan di Sinjai akan digunakan untuk mensuplai kabupaten lainnya.
Menurut Bo Kallin, jika PLTA ini sudah rampung dan beroperasi tahun depan akan memberi ruang yang lebih luas kepada kabupaten lainnya di provinsi ini dalam mendapat pasokan listrik sebab produksi 10 MW itu tidak akan habis digunakan oleh Sinjai sendiri.
"Kami berharap Pemprov Sulsel dapat menjembatani masalah yang dihadapi PT. SMHP terutama menyangkut pemanfaatan air sungai Tanggara itu supaya pembangunan PLTMH ini bisa berlanjut," ujarnya.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pihaknya akan memanggil bupati SInjai dan Gowa untuk membicarakan masalah itu agar pembangunan PLTMH Manipi segera dilanjutkan karena sangat dibutuhkan.
"No problemlah. Saya akan panggil kedua bupati, sekaligus membentuk tim penyelesaian klaim-mengklaim sungai tersebut," katanya.
Syahrul yang mantan Bupati Gowa itu mengingatkan bahwa masalah sungai yang airnya dibutuhkan semua pihak tidak boleh diklaim sebagai milik sendiri sebab sungai bukan milik daerah atau manusia melainkan milik Allah. (*/una)

sumber : http://www.beritakotamakassar.com/
Read More..

Minggu, 22 Juni 2008

Potensi PLTMH Tersedia Luas

Perlu Meningkatkan Kesadaran Pelestarian Alam
Sabtu, 1 Maret 2008 | 15:41 WIB

Banjarnegara, Kompas - Sejumlah pembangkit listrik tenaga mikro hidro atau PLTMH akan dibangun di 30 lokasi aliran sungai di Jawa Tengah oleh PT Indonesia Power unit Mrica, Kabupaten Banjarnegara. Setiap lokasi paling tidak akan dibangun PLTMH yang dapat memproduksi listrik lebih dari satu megawatt.

General Manager PT Indonesia Power unit Mrica Teguh Adi Nuryanto, Jumat (29/2), mengatakan, jumlah lokasi pembangunan PLTMH itu baru terbatas di wilayah eks-Karesidenan Banyumas. Potensi PLTMH di Jateng lebih banyak, dan bisa menjadi peluang untuk mengatasi krisis listrik.

"Dari 30 lokasi yang kami rencanakan itu semua menggunakan sungai-sungai kecil dan aliran irigasi," katanya.

Untuk aliran sungai yang lebih kecil pun, seperti aliran irigasi, lanjutnya, juga dapat digunakan untuk PLTMH dengan produksi listrik berkisar 300 kilowatt. Produksi listrik ini dapat digunakan untuk 600 rumah, dengan daya listrik 450 watt per rumah.

Hanya saja untuk hitungan bisnis bagi pengusaha, lanjut Teguh, produksi listrik sekecil itu membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan modal. Namun produksi listrik skala kecil itu dapat digarap oleh pemerintah daerah.

"Untuk membangun satu pembangkit itu dibutuhkan dana lebih dari Rp 15 juta, dan baru kembali setelah sembilan tahun," katanya.

PLTMH Wangan Aji di Kabupaten Wonosobo yang dikelola Pondok Pesantren Roudlotuth Tholibin, misalnya, menggunakan aliran air irigasi untuk menggerakan dua turbin dengan kapasitas produksi 140 KW. Menurut Manajer Koperasi Ponpes Roudlotuth Tholibin Slamet Zakaria, PLTMH itu tak menggunakan bendungan air karena pasokan air di saluran irigasi itu tak pernah surut.

"Terjunan airnya juga cukup curam sehingga dapat menggerakkan turbin. Air yang digunakan juga tidak tercemar, melainkan kembali mengalir ke saluran irigasi," kata Zakaria.

Untuk menjamin turbin dapat bergerak, katanya, pihaknya harus tetap menjaga kebersihan air dari sampah. "Daerah di atas PLTMH ini terdapat pasar, sehingga kadang-kadang ada sampah masuk ke saluran irigasi ini," lanjutnya.

Teguh mengatakan, untuk menjalankan PLTMH maupun PLTA memang perlu memerhatikan peningkatan pelestarian alam. "Seperti permasalahan PLTA Mrica, terbentur pada masalah endapan lumpur di Waduk Pangbes Jenderal Soedirman yang mencapai 40 persen. Jadi, perlu ada kesadaran menjaga lingkungan hutan di Dieng tetap hijau agar erosi di Sungai Serayu tak terlalu tinggi," katanya.

Di beberapa wilayah Banyumas, PLTMH dengan teknologi kincir air sederhana dimulai sejak tahun 1997. Hal ini seperti terdapat di sejumlah kecamatan di lereng Gunung Slamet, seperti Karanglewas dan Cilongok. Warga Dusun Semaya, Desa Sunyalangu, Karanglewas adalah yang kali pertama mengembangkan listrik berpembangkit kincir air di Banyumas. (mdn/han)


sumber : cetak.kompas.com

Read More..

Mikro Hidro Potensial Penuhi Kekurangan Elektrifikasi

Senin, 12 Mei 2008 | 20:11 WIB

BANDUNG, SENIN- Pada tahun 2007, Perusahaan Listrik Negara atau PLN baru dapat memenuhi kebutuhan elektrifikasi di Jawa Barat sebesar 61,51 persen. Karena itu, potensi-potensi energi alternatif perlu dikembangkan, salah satunya dengan pembangkit listrik mikro hidro. Namun demikian, energi potensial ini hanya akan stabil jika kelestarian alam di sekitarnya terjaga.

Demikian diungkapkan Wakil Ketua Smart Otomotif T Wisnuadji, Senin (12/5) di Bandung . Prinsip pengembangan mikro hidro sangatlah sederhana. "Kinerja teknologi ini adalah memanfaatkan energi potensial air untuk menggerakkan generator sehingga menghasilkan listrik," ujarnya.

Menurut Wisnu, alam Jawa Barat sangat potensial untuk pengembangan teknologi pembangkit listrik tenaga air, antara lain di daerah Sukabumi dan Garut yang masih memiliki hutan dan persediaan air yang stabil. Namun, pengembangan mikro hidro belum banyak direalisasikan.

Beberapa kendala yang menghambat pengembangan energi hidro adalah jauhnya lokasi yang berpotensi dengan jaringan dan tranmisi listrik. Selain itu, perambahan hutan yang marak dilakukan juga menjadi kendala tidak stabilnya volume air.

Wisnu mengatakan, pengembangan mikro hidro dapat direalisasikan berdasarkan tingkat kebutuhan masyarakat. "Sebenarnya ada tiga macam teknologi mikro hidro yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai pengganti alternatif listrik, yaitu pico hidro dengan kemampuan sekitar 100 watt, mikro hidro dengan kemampuan energi di bawah 300 Kwh, serta mini hidro dengan kemampuan di atas 300 Kwh," jelasnya.

Teknologi pico hidro dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan energi terbatas, seperti menghidupkan lampu dan keperluan alat elektronik berdaya kecil. Sedangkan teknologi mikro hidro memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan energi sekitar 500 rumah hunian, dan teknologi mini hidro dapat mencukupi kebutuhan energi beberapa desa.

Wisnu mengatakan, sampai saat ini permintaan teknologi mikro hidro justru datang dari luar Provinsi Jawa Barat. Kami sudah memenuhi pesanan dua turbin untuk Provinsi Aceh, dan dua turbin untuk Sulawesi. "Untuk pemenuhan Provinsi Jawa Barat masih direncanakan dengan kapasitas sekitar 3,2 mega watt ," ujarnya.

Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat masih mencatat tingkat ektrifikasi di bawah 50 persen untuk beberapa daerah . Bahkan di Kabupaten Cianjur dan Garut terdapat enam kecamatan dan 11 desa yang belum berlistrik.

Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat TB Hisni mengungkapkan, untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah melakukan program listrik masuk desa serta membangun 21 unit pembangkit listrik tenaga mikro hidro untuk 4.797 kepala keluarga dan pemasangan PLTS untuk 775 kepala keluarga.


sumber : www.kompas.com

Read More..